Artikel Mengenai Kalor
Judul : 4.1 Kalor
4.2 Perpindahan Kalor
4.3 Azas Black
I.ARTIKEL
Artikel Pertama :
Pengertian Kalor
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang
dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang
dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika
suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga
sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit.
Dari hasil percobaan yang
sering dilakukan besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat)
bergantung pada 3 faktor
- massa zat
- jenis zat (kalor jenis)
- perubahan suhu
Sehingga secara matematis
dapat dirumuskan :
Q = m.c.(t2 – t1)
Dimana :
Q adalah kalor yang
dibutuhkan (J)
m adalah massa benda (kg)
c adalah kalor jenis (J/kgC)
(t2-t1) adalah perubahan
suhu (C)
Kalor dapat dibagi menjadi
2 jenis
- Kalor yang digunakan untuk menaikkan suhu
- Kalor yang digunakan untuk mengubah wujud (kalor
laten), persamaan yang digunakan dalam kalor laten ada dua macam Q = m.U
dan Q = m.L. Dengan U adalah kalor uap (J/kg) dan L adalah kalor lebur
(J/kg)
Dalam pembahasan kalor ada
dua kosep yang hampir sama tetapi berbeda yaitu kapasitas kalor (H) dan kalor
jenis (c)
Kapasitas kalor adalah
banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1 derajat
celcius.
H = Q/(t2-t1)
Kalor jenis adalah
banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg zat sebesar 1 derajat
celcius. Alat yang digunakan untuk menentukan besar kalor jenis adalah kalorimeter.
c = Q/m.(t2-t1)
Bila kedua persamaan
tersebut dihubungkan maka terbentuk persamaan baru
H = m.c
Analisis grafik perubahan
wujud pada es yang dipanaskan sampai menjadi uap. Dalam grafik ini dapat
dilihat semua persamaan kalor digunakan.
Keterangan :
Pada Q1 es
mendapat kalor dan digunakan menaikkan suhu es, setelah suhu sampai pada 0 C
kalor yang diterima digunakan untuk melebur (Q2), setelah semua
menjadi air barulah terjadi kenaikan suhu air (Q3), setelah suhunya
mencapai suhu 100 C maka kalor yang diterima digunakan untuk berubah wujud
menjadi uap (Q4), kemudian setelah berubah menjadi uap semua maka
akan kembali terjadi kenaikan suhu kembali (Q5)
Hubungan antara kalor dengan energi listrik
Kalor merupakan bentuk
energi maka dapat berubah dari satu bentuk kebentuk yang lain. Berdasarkan
Hukum Kekekalan Energi maka energi listrik dapat berubah menjadi energi kalor
dan juga sebaliknya energi kalor dapat berubah menjadi energi listrik. Dalam
pembahasan ini hanya akan diulas tentang hubungan energi listrik dengan energi
kalor. Alat yang digunakan mengubah energi listrik menjadi energi kalor adalah
ketel listrik, pemanas listrik, dll.
Besarnya energi listrik
yang diubah atau diserap sama dengan besar kalor yang dihasilkan. Sehingga
secara matematis dapat dirumuskan.
W = Q
Untuk menghitung energi
listrik digunakan persamaan sebagai berikut :
W = P.t
Keterangan :
W adalah energi listrik (J)
P adalah daya listrik (W)
t adalah waktu yang
diperlukan (s)
Bila rumus kalor yang
digunakan adalah Q = m.c.(t2 – t1) maka diperoleh
persamaan ;
P.t = m.c.(t2 –
t1)
Yang perlu diperhatikan
adalah rumus Q disini dapat berubah-ubah sesuai dengan soal.
Asas Black
Menurut asas Black apabila
ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan atau dicampur maka akan
terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang bersuhu
rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Secara matematis
dapat dirumuskan :
Q lepas = Q terima
Yang melepas kalor adalah
benda yang suhunya tinggi dan yang menerima kalor adalah benda yang bersuhu
rendah. Bila persamaan tersebut dijabarkan maka akan diperoleh :
Q lepas = Q terima
m1.c1.(t1
– ta) = m2.c2.(ta-t2)
Catatan yang harus selalu
diingat jika menggunakan asasa Black adalah pada benda yang bersuhu tinggi
digunakan (t1 – ta) dan untuk benda yang bersuhu rendah
digunakan (ta-t2). Dan rumus kalor yang digunakan tidak
selalu yang ada diatas bergantung pada soal yang dikerjakan.
Artikel
Kedua :
Perpindahan Kalor
Kalor dapat berpindah dari satu
tempat ke tempat lain. Bagaimanakah cara kalor itu berpindah? Kalor dapat
berpindah dengan tiga cara, yaitu konduksi atau hantaran, konveksi atau aliran,
dan radiasi atau pancaran.
1.
Konduksi
Konduksi adalah perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Berdasarkan daya hantar kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Konduktor
Konduktor adalah zat yang memiliki daya hantar kalor baik. Contoh : besi, baja, tembaga, aluminium, dll
2) Isolator
Isolator adalah zat yang memiliki daya hantar kalor kurang baik. Contoh : kayu, plastik, kertas, kaca, air, dll
Konduksi adalah perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Berdasarkan daya hantar kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Konduktor
Konduktor adalah zat yang memiliki daya hantar kalor baik. Contoh : besi, baja, tembaga, aluminium, dll
2) Isolator
Isolator adalah zat yang memiliki daya hantar kalor kurang baik. Contoh : kayu, plastik, kertas, kaca, air, dll
2.
Konveksi
Konveksi adalah perpindahan kalor
pada suatu zat yang disertai perpindahan partikel-partikel zat tersebut. Konveksi terjadi karena perbedaan
massa jenis zat. Kamu dapat memahami peristiwa konveksi, antara lain:
1) Pada zat cair karena perbedaan massa jenis zat, misal sistem pemanasan air, sistem aliran air panas.
2) Pada zat gas karena perbedaan tekanan udara, misal terjadinya angin darat dan angin laut, sistem ventilasi udara, untuk mendapatkan udara yang lebih dingin dalam ruangan dipasang AC atau kipas angin, dan cerobong asap pabrik.
1) Pada zat cair karena perbedaan massa jenis zat, misal sistem pemanasan air, sistem aliran air panas.
2) Pada zat gas karena perbedaan tekanan udara, misal terjadinya angin darat dan angin laut, sistem ventilasi udara, untuk mendapatkan udara yang lebih dingin dalam ruangan dipasang AC atau kipas angin, dan cerobong asap pabrik.
3. Radiasi
atau pancaran
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa melalui zat
perantara. Saat acara api unggun pada kegiatan Pramuka di sekolahmu, apa yang
dapat kamu rasakan saat kamu berada di sekitar nyala api unggun? Kamu akan
merasakan hangatnya api unggun dari jarak berjauhan. Bagaimanakah panas api
unggun dapat sampai ke badanmu? Kalor yang kamu terima dari nyala api unggun
disebabkan oleh energi pancaran. Alat yang digunakan untuk mengetahui adanya
radiasi kalor atau energi pancaran kalor disebut termoskop. Termoskop terdiri
dari dua buah bola kaca yang dihubungkan dengan pipa U berisi air alkohol yang
diberi pewarna. Perhatikan gambar!

Salah satu bola lampu dicat hitam, sedangkan yang lain dicat
putih. Apabila pancaran kalor mengenai bola A, hal ini mengakibatkan tekanan
gas pada bola A menjadi besar. Hal ini mengakibatkan turunnya permukaan zat
cair yang ada di bawahnya. Bagaimanakah sifat radiasi dari berbagai permukaan?
Sifat radiasi berbagai permukaan dapat diselidiki dengan menggunakan alat
termoskop diferensial. Alat yang digunakan untuk menyelidiki sifat radiasi
berbagai permukaan disebut termoskop diferensial. Kedua bola lampu dicat dengan
warna yang sama, tetapi di antara bola tersebut diletakkan bejana kubus yang
salah satu sisinya permukaannya hitam kusam dan sisi lainnya mengkilap. Jika
bejana kubus diisi dengan air panas, akan terlihat permukaan alkohol di bawah
bola B turun. Perbedaan ini disebabkan karena kalor yang diserap bola B
lebih besar daripada bola A. Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat ditarik
kesimpulan bahwa:
1) Permukaan benda hitam, kusam, dan kasar merupakan pemancar dan penyerap kalor yang baik.
2) Permukaan benda putih, mengkilap dan halus merupakan pemancar dan penyerap kalor yang buruk
1) Permukaan benda hitam, kusam, dan kasar merupakan pemancar dan penyerap kalor yang baik.
2) Permukaan benda putih, mengkilap dan halus merupakan pemancar dan penyerap kalor yang buruk
Artikel Ketiga :
Kalor
Sendok yang digunakan untuk menyeduh
kopi panas, akan terasa hangat. Leher Anda jika disentuh akan terasa hangat.
Apa sebenarnya yang berpindah dari kopi panas ke sendok dan dari leher ke
syaraf kulit? Sesuatu
yang berpindah tersebut merupakan energi/kalor. Pada
dasarnya kalor adalah perpindahan energi kinetik dari satu benda yang bersuhu
lebih tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah. Pada waktu zat mengalami
pemanasan, partikel-partikel benda akan bergetar dan menumbuk partikel tetangga
yang bersuhu rendah. Hal ini berlangsung terus menerus membentuk energi kinetik
rata-rata sama antara benda panas dengan benda yang semula dingin. Pada kondisi
seperti ini terjadi keseimbangan termal dan suhu kedua benda akan sama.
1. Hubungan Kalor dengan Suhu Benda
Sewaktu Anda memasak air, Anda membutuhkan kalor untuk
menaikkan suhu air hingga mendidihkan air. Nasi yang dingin dapat dihangatkan
dengan penghangat nasi. Nasi butuh kalor untuk menaikkan suhunya. Berapa banyak
kalor yang diperlukan air dan nasi untuk menaikkan suhu hingga mencapai suhu
yang diinginkan? Secara induktif, makin besar kenaikan suhu suatu benda, makin
besar pula kalor yang diserapnya. Selain itu, kalor yang diserap benda juga
bergantung massa benda dan bahan penyusun benda. Secara matematis dapat di
tulis seperti berikut.
Q = m × c × T
Keterangan:
Q : kalor yang diserap/dilepas benda (J)
m : massa benda (kg)
c : kalor jenis benda (J/kg°C)
T :
perubahan suhu (° C)
158 Fisika SMA/MA Kelas X
Kalor jenis benda (zat) menunjukkan banyaknya kalor yang
diperlukan oleh 1 kg zat untuk menaikkan suhunya sebesar satu satuan suhu (°
C). Hal ini berarti tiap benda (zat) memerlukan kalor yang berbeda-beda
meskipun
untuk menaikkan suhu yang sama dan massa yang sama. Kalor
jenis beberapa zat dapat Anda lihat pada tabel berikut.
2. Kapasitas Kalor
Air satu panci ketika dimasak hingga mendidih memerlukan
kalor tertentu. Kalor yang dibutuhkan 1 panci air agar suhunya naik 1° C
disebut kapasitas kalor. Kapasitas kalor sebenarnya banyaknya energi yang
diberikan dalam bentuk kalor untuk menaikkan suhu benda sebesar satu derajat.
Pada sistem SI, satuan kapasitas kalor adalah JK-1. Namun, karena di Indonesia suhu biasa dinyatakan dalam skala
Celsius, maka satuan kapasitas kalor yang dipakai dalam buku ini adalah J/°C.
Kapasitas kalor dapat dirumuskan sebagai berikut.
Q = C × ∆T
Keterangan:
Q : kalor yang diserap/dilepas (J)
C : kapasitas kalor benda (J/°C)
∆T : perubahan suhu benda (° C)
jenis, maka Anda dapatkan persamaan sebagai berikut.
C = m × c
Keterangan:
C : kapasitas kalor benda (J/°C)
m : massa benda (kg)
c : kalor jenis benda (J/kg °C)
D. Perubahan Wujud
Di SMP Anda telah mempelajari tentang wujud zat, yaitu
padat, cair, dan gas. Suatu zat dapat berada pada salah satu dari ketiga wujud
tersebut, tergantung pada suhunya. Misalnya, air. Air dapat berwujud padat
apabila berada pada tekanan normal dan suhunya di bawah 0° C. Air juga dapat berwujud
uap bila tekanannya normal dan suhunya di atas 100° C. Contoh lain adalah
tembaga. Tembaga dapat berwujud padat bila berada pada tekanan
normal dan suhu di bawah 1.083° C. Tembaga akan berwujud
cair bila berada pada tekanan normal dan suhunya antara 1.083° C – 2.300° C. Tembaga
akan berwujud gas bila berada pada tekanan normal dan suhunya di atas 2.300° C.
1. Kalor Lebur dan Kalor Didih
Kalor yang diserap benda digunakan untuk dua kemungkinan,
yaitu untuk menaikkan suhu atau untuk mengubah wujud benda. Misalnya, saat es
mencair, ketika itu benda berubah wujud, tetapi suhu benda tidak berubah meski
ada penambahan kalor. Kalor yang diberikan ke es tidak digunakan untuk mengubah
suhu es, tetapi untuk mengubah wujud benda. Kalor ini disebut kalor laten. Kalor laten merupakan kalor yang
dibutuhkan 1 kg zat untuk berubah wujud. Kalor laten ada dua macam, yaitu kalor
lebur dan kalor didih. Kalor lebur merupakan kalor yang dibutuhkan
1 kg zat untuk melebur. Kalor yang dibutuhkan untuk melebur sejumlah zat yang
massanya m dan kalor leburnya KLdapat dirumuskan sebagai berikut.
Q = m × KL
KL = Q : m
Keterangan:
Q : kalor yang diperlukan (J)
m : massa zat (kg)
KL : kalor lebur zat (J/kg)
2. Asas Black
Anda ketahui bahwa kalor berpindah dari satu benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Perpindahan ini mengakibatkan terbentuknya
suhu akhir yang sama antara kedua benda tersebut. Pernahkah Anda membuat susu
atau kopi? Sewaktu susu diberi air panas, kalor akan menyebar ke seluruh cairan
susu yang dingin, sehingga susu terasa hangat. Suhu akhir setelah percampuran
antara susu dengan air panas disebut suhu termal (keseimbangan). Kalor yang
dilepaskan air panas akan sama besarnya dengan kalor yang diterima susu yang
dingin. Kalor merupakan energi yang dapat berpindah, prinsip ini merupakan
prinsip hukum kekekalan energi. Hukum
kekekalan energi di rumuskan pertama kali oleh Joseph
Black (1728 – 1899). Oleh karena itu, pernyataan tersebut juga di kenal sebagai
asas Black. Joseph Black merumuskan perpindahan kalor antara dua benda yang
membentuk suhu termal sebagai berikut.
Qlepas = Qterima
Keterangan:
Qlepas : besar kalor yang diberikan (J)
Qterima : besar kalor yang diterima (J)
Sumber Artikel :
Artikel Ketiga : http://fisika79.wordpress.com/2011/02/22/kalor-q/

ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق