Artikel Mengenai Listrik Dinamis
Judul : 5.1
Listrik Dinamis (1 loop)
5.2 Alat Ukur Listrik
Dinamis
I.ARTIKEL
Artikel Pertama :
Listrik Dinamis
Kuat Arus
Listrik (I)
Aliran listrik ditimbulkan oleh
muatan listrik yang bergerak di dalam suatu penghantar. Arah arus listrik (I)
yang timbul pada penghantar berlawanan arah dengan arah gerak elektron.
Muatan listrik dalam jumlah tertentu yang menembus suatu
penampang dari suatu penghantar dalam satuan waktu tertentu disebut sebagai
kuat arus listrik. Jadi kuat arus listrik adalah jumlah muatan listrik yang
mengalir dalam kawat penghantar tiap satuan waktu. Jika dalam waktu t mengalir muatan listrik sebesar Q, maka kuat arus listrik I adalah:
para ahli telah melakukan perjanjian bahwa arah arus
listrik mengalir dari kutub positif ke kutub negatif. Jadi arah arus listrik
berlawanan dengan arah aliran elektron.
Beda Potensia atau Tegangan(V)
Terjadinya arus listrik dari kutub positif ke kutub
negatif dan aliran elektron dari kutub negatif ke kutub positif, disebabkan
oleh adanya beda potensial antara kutub positif dengan kutub negatif, dimana
kutub positif mempunyai potensial yang lebih tinggi dibandingkan kutub negatif.
Beda potensial antara kutub positif dan kutub negatif
dalam keadaan terbuka disebut gaya gerak listrik dan dalam keadaan tertutup
disebut tegangan jepit.
Hubungan Antara Kuat Arus LIstrik (I) dan Tegangan (V)
Hubungan antara V dan I pertama kali ditemukan oleh
seorang guru Fisika berasal dari Jerman yang bernama George Simon Ohm. Dan
lebih dikenal sebagai hukum Ohm yang berbunyi:
Besar kuat arus listrik dalam suatu penghantar berbanding
langsung dengan beda potensial (V) antara ujung-ujung penghantar asalkan suhu
penghantar tetap.
Hasil bagi antara beda potensial (V) dengan kuat arus (I)
dinamakan hambatan listrik atau resistansi (R) dengan satuan ohm.
Hubungan antara Hambatan Kawat Dengan
Jenis dan Ukuran Kawat
Hambatan atau resistansi berguna untuk mengatur besarnya
kuat arus listrik yang mengalir melalui suatu rangkaian listrik. Dalam radio
dan televisi, resistansi berguna untuk menjaga kuat arus dan tegangan pada
nilai tertentu dengan tujuan agar komponen-komponen listrik lainnya dapat
berfungsi dengan baik.
Untuk berbagai jenis kawat, panjang kawat dan penampang
berbeda terdapat hubungan sebagai berikut:
Hukum I Kirchoff
Dalam alirannya, arus listrik juga mengalami
cabang-cabang. Ketika arus listrik melalui percabangan tersebut, arus listrik
terbagi pada setiap percabangan dan besarnya tergantung ada tidaknya hambatan
pada cabang tersebut. Bila hambatan pada cabang tersebut besar maka akibatnya
arus listrik yang melalui cabang tersebut juga mengecil dan sebaliknya bila pada
cabang, hambatannya kecil maka arus listrik yang melalui cabang tersebut arus
listriknya besar.
Hukum I Kirchoff berbunyi:
Jumlah kuat arus listrik yang masuk ke suatu titik simpul
sama dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar dari titik simpul tersebut.
Hukum I Kirchhoff tersebut sebenarnya tidak lain
sebutannya dengan hukum kekekalan muatan listrik.
Hukum I Kirchhoff secara matematis dapat dituliskan
sebagai:
Hukum II Kirchoff
Pemakaian Hukum II Kirchhoff pada rangkaian tertutup yaitu
karena ada rangkaian yang tidak dapat disederhanakan menggunakan kombinasi seri
dan paralel.
Umumnya ini terjadi jika dua atau lebih ggl di dalam
rangkaian yang dihubungkan dengan cara rumit sehingga penyederhanaan rangkaian
seperti ini memerlukan teknik khusus untuk dapat menjelaskan atau
mengoperasikan rangkaian tersebut. Jadi Hukum II Kirchhoff merupakan solusi
bagi rangkaian-rangkaian tersebut yang berbunyi:
Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya
gerak listrik (ε)
dengan penurunan tegangan (IR) sama dengan nol.
Hukum Kirchoff II dirumuskan sebagai berikut:
Energi Listrik
Karena q = I . t, dimana I adalah kuat arus listrik dan t
waktu, maka besar usaha
yang dilakukan adalah:
W = V . I . t
Karena V = I . R, maka besar usaha W yang sama dengan
energi listrik adalah
Daya Listrik
Besar Daya listrik (P) pada suatu alat listrik adalah
merupakan besar energi listrik (W) yang muncul tiap satuan waktu (t), kita tuliskan.
Artikel Kedua :
Listrik Dinamis
Pernahkah
kamu berpikir bahwa kamu telah memanfaatkan listrik dalam kehidupan
sehari-hari? Lampu untuk belajar di malam hari dan setrika listrik untuk
melicinkan pakaian merupakan contoh pemanfaatan listrik. Namun, tidakkah kamu bertanya-tanya apa yang menyebabkan
peralatan tersebut berfungsi? Temukan jawabannya dengan mempelajari materi ini
Kuat Arus Listrik
Kuat arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Secara matematis dituliskan :
keterangan :
I = Kuat arus listrik (ampere)
Q = muatan listrik (coulomb)
t = waktu (sekon)
Arus listrik hanya mengalir pada rangkaian tertutup. Sehingga, ketika saklar dimatikan maka arus listrik akan terhenti.
Kuat Arus Listrik
Kuat arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Secara matematis dituliskan :
keterangan :
I = Kuat arus listrik (ampere)
Q = muatan listrik (coulomb)
t = waktu (sekon)
Arus listrik hanya mengalir pada rangkaian tertutup. Sehingga, ketika saklar dimatikan maka arus listrik akan terhenti.
Beda
Potensial Listrik
Beda Potensial listrik adalah banyaknya energi untuk memindahkan muatan listrik dari satu titik ke titik lain. Secara matematis dituliskan :
V = beda potensial (volt)
W = energi listrik (joule)
Q = muatan listrik (coulomb)
Rangkaian sumber tegangan
a. Rangkaian tunggal
pada rangkaian tunggal sumber tegangan berlaku persamaan :
atau
b. Rangkaian seri
pada rangkaian seri sumber tegangan berlaku persamaan :
c. Rangkaian paralel
pada rangkaian paralel sumber tegangan berlaku persamaan :
Beda Potensial listrik adalah banyaknya energi untuk memindahkan muatan listrik dari satu titik ke titik lain. Secara matematis dituliskan :
V = beda potensial (volt)
W = energi listrik (joule)
Q = muatan listrik (coulomb)
Rangkaian sumber tegangan
a. Rangkaian tunggal
pada rangkaian tunggal sumber tegangan berlaku persamaan :
atau
b. Rangkaian seri
pada rangkaian seri sumber tegangan berlaku persamaan :
c. Rangkaian paralel
pada rangkaian paralel sumber tegangan berlaku persamaan :
keterangan :
E = GGL sumber tegangan (volt)
I = Kuat arus listrik (ampere)
R = Hambatan luar (ohm)
r = hambatan dalam (ohm)
n = jumlah GGL/baterai
Hukum Ohm
Hukum Ohm menyatakan bahwa kuat arus listrik yang mengalir dalam suatu penghantar sebanding dengan beda potensial pada ujung-ujung penghantar.
keterangan :
V = beda potensial (volt)
I = kuat arus listrik (ampere)
R = hambatan listrik (ohm)
Hukum I Kirchoff
Hukum I Kirchoff menyatakan “Jumlah kuat arus yang masuk pada rangkaian bercabang besarnya sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan”
secara matematis dituliskan : I =I1+I2+I3
Rangkaian Hambatan
a. Rangkain Seri
pada rangkaian hambatan seri berlaku persamaan :
b. Rangkaian Paralel
pada rangkaian hambatan paralel berlaku persamaan :
keterangan :
I = kuat arus total (A)
I1 = kuat arus pada R1 (A)
I2 = kuat arus pada R2 (A)
I3 = kuat arus pada R3 (A)
V = tegangan total (A)
V1 = tegangan pada R1 (A)
V2 = tegangan pada R2 (A)
V3 = tegangan pada R3 (A)
Rs = Hambatan pengganti seri (ohm)
Rp = Hambatan pengganti parallel (ohm)
Cara CEPAT !!!
Jika 2 buah hambatan dirangkai paralel, maka hambatan penggantinya :
Artikel Ketiga :
Alat Ukur Listrik
Alat ukur listrik adalah alat yang
digunakan untuk mengukur besaran-besaran listrik seperti kuat arus listrik (I),
beda potensial listrik (V), hambatan listrik (R), daya listrik (P), dll. Alat
ukur listrik ini ada yang berupa alat ukur analog dan ada juga yang berupa alat
ukur digital. Berikut adalah gambar alat-alat ukur listrik yang dibedakan
berdasarkan fungsinya
Galvanometer
Galvanometer adalah alat ukur
listrik yang digunakn untuk mengukur kuat arus dan beda potensial listrik yang
relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat arus
maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen
internalnya yang tidak mendukung . Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur
kuat arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer
tersebut dipasang hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan,
sedangkan pada ampermeter disebut hambatan shunt)
Ampermeter
Ampermeter adalah alat ukur listrik
yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik dalam suatu rangkaian tertutup.
Dalam pemasangannya, ampermeter ini harus dihubungkan paralel dengan sebuah
hambatan shunt Rsh. Peasangan hambatan shunt ini tidak lain bertujuan untuk
meningkatkan batas ukur galvanometer agar dapat mengukur kuat arus listrik yang
lebih besar dari nilai standarnya. Berikut adalah ilustrasi pengukuran kuat
arus listrik menggunakan ampermeter.
Voltmeter
Voltmeter adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk
mengukur beda potensial atau tegangan pada ujung-ujung komponen elektronika
yang sedang aktif, seperti kapasitor aktif, resistor aktif, dll. Selain itu,
alat ini juga bisa digunakan untuk mengukur beda potensial suatu sumber
tegangan, seperti batere, catu daya, aki, dll. Voltmeter dapat dibuat dari
sebuah galvanometer dan sebuah hambatan eksternal Rx yang dipasang seri. Adapun
tujuan pemasangan hambatan Rx ini tidak lain adalah untuk meningkatkan batas
ukur galvanometer, sehingga dapat digunakan untuk mengukur tegangan yang lebih
besar dari nilai standarnya.
Ohmmeter
Ohmmeter adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk
mengukur hambatan suatu komponen, seperti resistor, dan hambatan kawat
penghantar. Tidak seperti ampermeter dan voltmeter, ohmmeter dapat bekerja
sesuai dengan fungsinya jika pada alat tersebut terdapat sumber tegangan,
misalnya batere.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق